Arti Kemerdekaan Ke-65 NKRI

Standar

Indonesia Optimis

Indonesia Optimis


Sudah 65 tahun bangsa Indonesia melewati masa-masa perjuangan mengisi kemerdekaan. Selama itu tentu banyak suka dan duka yang kita rasakan. Masa 65 tahun bukanlah usia yang muda lagi, sudah setengah abad lebih. Menurut ukuran umur manusia sudah sangat dewasa atau mungkin sudah tua dan cukup umur. Kalau kita kaji dan renungkan lebih dalam lagi, kemerdekaan mempunyai beberapa arti tersendiri, baik secara fisik-material maupun mental-spiritual. Antara arti yang satu dengan yang lainnya tidka bisa dilepaskan karena saling berkaitan dan mempengaruhi. Arti kemerdekaan adalah sebagai berikut.

Pertama, terbebas dari penjajahan bangsa lain atau bangsa asing. Bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini bisa terlepas dari kekuasaan penjajahan dengan pengorbanan yang sangat besar. Darah, jiwa dan raga serta harta benda yang tak terhingga telah menyatu pada bumi Indonesia, menjadi saksi berdirinya. Republik Indonesia. Betapa besar pengorbanan bangsa Indonesia demi meraih
kemerdekaan.

Kedua
, bebas dari rasa takut dan khawatir. Orang dikatakan merdeka apabila tidak dikungkung atau diliputi perasaan takut, cemas, dan khawatir yang berkepanjangan. Ia terbebas dari pikiran yang sempit dan pendek. Seandainya sudah terbebas dari rasa takut akan timbul keberanian, kreativitas,
dan munculnya ide-ide baru. Di sini kemerdekaan merupakan modal untuk berkembang.

Ketiga, bebas untuk mengemukakan pendapat, baik lisan maupun tulisan. Kebebasan untuk mengeluarkan pendapat merupakan hak setiap orang. Tentu saja dalam mengemukakan pendapat harus dilandasi rasa tanggung jawab, menghormati pendapat orang lain dan tidak asal mengeluarkan pendapat. Dalam mengeluarkan atau mengemukakan pendapat harus dibarengi kejujuran dan kebenaran. Jangan sampai mengemukakan pendapat berisi kebohongan dan fitnah.

Keempat, bebas menentukan nasib sendiri. Orang dikatakan merdeka seandainya bebas untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena pada dasarnya, masa depan kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Jalan mana yang akan ditempuh, itu terserah kepada kita, apakah akan menempuh jalan lurus atau berliku. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita tidak dibayangi, dikendalikan, dan mendapat tekanan dari orang lain. Kehadiran orang lain sifatnya hanya membantu, memberi saran atau informasi dan memotivsi. Pada akhirnya apa pun yang akan kita lakukan atau perbuat berpulang kepada diri kita masing-masing. Ingat, nasib suatu kaum tidak akan berubah kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Beberapa arti kemerdekaan di atas hendaknya dijadikan bahan renungan dan introspeksi diri. Apakah kita sudah merasakan kemerdekaan yang sebenarnya? Jawabannya berpulang kepada diri kita masing-masing. Hati kecil pasti bisa menjawab. Mungkin seseorang telah merasakan atau menikmati arti kemerdekaan yang sebenarnya. Atau mungkin hanya kemerdekaan semu. Arti Baru Kemerdekaan Indonesia.

Benny Susetyo, Forum Diskusi Media Group
JIKA dibandingkan dengan usia Amerika Serikat yang sudah mencapai 229 tahun (4 Juli 1776 lepas dari koloni Inggris), usia kemerdekaan Indonesia mungkin belum ada apa-apanya. Namun, usia 60 tahun bagi RI bisa jadi setara karena kepribadian keindonesiaan kita dibangun sudah semenjak imperium Majapahit, Sriwijaya, dan dalam banyak catatan sejarah kita didewasakan oleh penjajahan selama 350 tahun!

Usia 65 tahun adalah usia yang matang. Beberapa generasi telah melewati suka dan duka menjalani kebangsaan Indonesia. Pahit getir Indonesia sebagai sebuah bangsa telah menjadi pengalaman berharga untuk membangun peradaban Republik. Sayangnya, kita sulit bahkan hampir tidak pernah, atau bahkan tidak jarang tidak mau, belajar dari pengalaman. Sama halnya dengan keengganan kita untuk belajar dari sejarah. Kita sering terperosok ke dalam lubang yang sama beberapa kali. Kegagalan demi kegagalan seolah menjadi ciri khas bangsa ini. Bangsa yang besar harus mampu ‘membaca’ ulang sejarahnya dan menjadikannya sebagai dasar berperilaku. Sejarah menjadi catatan terbaik untuk merenungkan ke mana negeri ini akan dibawa. Sejarah adalah landasan untuk membangun sebuah bangsa. Sejarah ketidakadilan dan kolonialisme bangsa kita seharusnya membuka mata hati kita bahwa bangsa ini harus dibangun di atas kekukuhan kemanusiaan dan keadilan. Indonesia kekinian sering kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan akibat ulah elitenya. Mereka sering bertindak atas nama rakyat semesta, tetapi nyatanya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Indonesia kini mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Sudah banyak ruang ekspresi kebangsaan yang direduksi menjadi semata-mata dalam nilai-nilai materialistik, juga hanya dalam pengertian logika pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik. Kita belum sepenuhnya memahami bahwa perubahan sebuah bangsa harus dimaknai dalam dinamika ruang dan waktu. Perubahan sebuah bangsa tidak hanya dibatasi oleh kondisi fisik (ruang saja), tetapi juga oleh waktu.

Memaknai ulang keindonesiaan kita berarti kita harus membaca dalam kacamata pandang baru, yakni dalam konteks politik dunia yang cenderung berorientasi ke arah liberalisme. Ideologi pasar dan neoliberalisme telah membuat negara sebagai institusi tidak lagi memainkan peranan sebagai penentu utama kehidupan dirinya.
Negara dengan segala badan publiknya sering tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupan masyarakat secara independen. Kepentingan global dalam pelajaran kebangsaan kita sering kali mendikte produk kebijakan kita. Indonesia kini harus disadari hanya sekadar sekrup kecil di mana kekuatan industri global begitu berperan mengatur kehidupan suatu negara. Negara dalam pengertian konvensional tidak lagi memiliki kewibawaan, karena sering kedaulatannya ditentukan oleh siapa yang mempunyai modal.

Modal sekarang ini telah menjadi penguasa dan pencatat sejarah bangsa ini akan dijalankan ke mana. Karena itulah sering kita lupa, kita ini sebenarnya sudah merdeka dari siapa? Untuk apa kita merdeka? Dua pertanyaan mendasar ini merupakan cermin dari refleksi kemerdekaan yang belum selesai. Selama kita merdeka, kita hanya berani merefleksikan kita merdeka dari kolonialisme konvensional. Kita belum sering bertanya, kita sudah merdeka atau belum.

Membaca sejarah dengan paradigma baru berarti berani melihat bahwa sebagai bangsa ikatan kesadaran kita masih begitu lemah. Alat perekatnya masih berdasarkan pada ikatan sejarah yang dimaknai oleh generasi tua. Ikatan kebangsaan kita masih tidak kukuh karena anak muda tidak merasakan bahwa hal itu merupakan bagian dari pergulatan dirinya.
***
Pergulatan keindonesiaan menuju sebuah tata dunia baru seharusnya menjadi pijakan untuk meletakkan kemerdekaan dari sisi keseimbangan politik global yang sifatnya dualistis, yaitu gelap dan terang. Politik yang dualistis tercermin dalam perang terhadap terorisme dan radikalisme yang bersumber dari cara melihat dunia secara simplistis.

Dunia hanya dimaknai dengan kekuatan senjata yang melahirkan ritus kekerasan baru. Kekerasan menjelma dalam dunia ekonomi tanpa melihat sisi sosial bagi manusia umumnya. Ekonomi hanya semata-mata dilihat dalam mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa peduli dengan realitas negara yang terus menjadi miskin karena proses pemiskinan dibuat sedemikian rupa oleh para komprador industri besar.

Kapitalisme dengan jaringan media telah mengubah cara berpikir masyarakat dunia ini. Seolah-olah kehidupan dunia ini ditentukan dari apa yang bisa dilihat oleh pancaindra semata. Inilah yang telah membius manusia sehingga kehilangan kesadarannya menjadi manusia karena kemerdekaan menentukan pilihannya ditentukan oleh media.

Teknologi telah mereduksi kedaulatan pribadi, komunitas, dan bahkan negara ke dalam sistem yang dibangun dalam kerangka maya. Dunia maya inilah yang membuat kedaulatan tertelan oleh sistem teknologi dan menjadi alat pengabsah modernisasi. Modernitas, di mana pun dipraktikkan, telah membuat kebersamaan dan solidaritas yang selama ini mengikat sebuah bangsa menjadi retak.

Atas dasar itulah maka kita harus memaknai sejarah bukan dalam cara lama, hanya melihat kemerdekaan sebagai mitos sejarah para satria. Tanpa mengurangi jasa mereka, namun mitos ini hanya akan membuat kita terpesona dengan kekuatan otot, padahal kemerdekaan adalah buah pikir. Hal itu mencerminkan sebuah pola bagaimana bangsa ini mau meletakkan orientasi dasar untuk membangun sebuah nation yang mampu memadukan dua kekuatan global dengan segala kecenderungannya.

Orientasi dasar negara harus ditata ulang untuk secara cepat merespons perubahan global. Kemerdekaan harus mampu membuat bangsa ini menjadi bangsa kreatif dengan menciptakan peluang membangun kekuatan strategis ekonomi, misalnya dengan China dan India. Kedua kekuatan ini setidaknya perlu dijadikan mitra strategis untuk membangun perimbangan dunia ekonomi tidak hanya didominasi kekuatan neoliberalisme.

Kekuatan ekonomi akan harus berjalan di atas proses dialektika. Ini terjadi bila ada perimbangan antara kekuatan negara maju dan negara berkembang. Perimbangan kekuatan dalam politik global merupakan kesempatan bangsa ini menentukan pilihan ekonomi di mana seharusnya mereka berpijak kepada kepentingan masyarakat. Titik pijaknya adalah untuk kepentingan masyarakat luas, dan dengan demikian kebijakan ekonom harus melindungi rakyat daripada kepentingan politik kaum neoliberalisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s