Susahnya Jadi Ibu

Standar

Susahnya Jadi Perawan. Itu judul film yang belum pernah saya tonton. Hanya saya lihat iklannya di kolom iklan sebuah surat kabar. Maklum, di kota kecil saya, bioskop sekarang sudah tergerus oleh televisi. Tak ada lagi gedung bioskop yang beroperasi di kota saya.

Yang saya bicarakan di sini, tentu bukan tentang gedung bioskop. Tentang susahnya jadi perawan. Ah, masak jadi perawan saja susah? Mungkin sedikit susah bagi yang sudah cukup umur untuk menikah, tetapi belum menemukan pasangan. Ini saya alami sendiri ketika saya sudah lulus kuliah dan tak tampak tanda-tanda akan ada jejaka yang datang melamar. Susahnya, di desa yang masih terpencil seperti kampung halaman saya, anak gadis di awal pertengahan 20-an sudah dianggap cukup tua. Jadi, pertanyaan yang muncul pun akan berkisar seputas kaan saya menikah.

Aha, kapan nikahnya kalau pacar saja belum ada waktu itu? Namun, kembali saya pun maklum, karena hampir semua teman SD saya sudah menikah dan punya anak. Yang sedikit mengganggu adalah kenapa hal-hal seperti itu mesti ditanyakan? Bukankah ini akan menjadi area supersensitif bagi perawan di ambang tua seperti saya waktu.

Melihat teman-teman saya yang sudah menikah waktu itu, dengan anak-anak yang lucu-lucu, tentu yang terbayang dalam benak saya adalah keinginan untuk segera berumah tangga dan memiliki momongan juga. Tentu hidup akan lebih indah, lebih berwarna, lebih semarak. Khayalan tingkat tinggi seorang perawan yang dianggap cukup tua oleh masyarakat sekitar.

Ketika akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang menjadi suami saya sekarang, tentu target utama adalah segera memiliki momongan karena katanya melahirkan di atas 30 sudah beresiko tinggi. Jadi, paling tidak, sebelum usia 30 saya sudah memiliki 2 orang anak, seperti program pemerintah. Hahaha…

Tetapi ternyata kenyataan tak sesuai harapan. Sampai beberapa bulan, program itu belum berhasil juga. Mungkin karena terlalu ditarget, ya. Setiap melihat teman, keluarga, kerabat yang sedang hamil, ngiler rasanya. Bayangan bayi mungil nan menggemaskan menari-nari di pelupuk mata. Membayangkan menyentuh kulit lembutnya, menatap mata polosnya, mencium wangi aroma tubuhnya.

Memang, sebuah bayangan akan lebih menyenangkan daripada kenyataan. Ketika akhirnya kami dipercaya Allah untuk mengasuh amanat-Nya, kami pun dikaruniai sebuah paket komplit. Tak hanya mata polos, kulit halus, aroma menggoda yang kami dapat. Kami pun mendapatkan aroma pesing dari ompolnya, kerewelan yang tak berhenti selama 40 hari pertama, dan tentu, kerepotan yang tak alang kepalang. Hehehe…

Tentu, kejadian ini dialami oleh hampir semua ibu di dunia. Jam tidur yang tiba-tiba menyusut. Waktu untuk privacy yang nyaris hilang. Tidur yang tak lagi nyenyak. Makan yang tak lagi enak. Kesempatan beribadah yang tak lagi leluasa. Bahkan untuk urusan rutin pagi pun tak lagi menjadi nikmat. Satu hal yang dulu sama sekali tak terpikirkan ketika si kecil belum lahir.

Ketika jumlahnya alhamdulillah ditambah, maka kerepotan pun kian bertambah pula. Saat anak-anak beranjak lebih besar, pertengkaran demi pertengkaran, keributan demi keributan pun kian dahsyat. Amboi, kalau tak ingat mereka adalah titipan Allah, tentu sudah meledak jiwa ini. Yang terpikir adalah, betapa hebatnya ibu-ibu yang sanggup mendidik 5,6,7, bahkan belasan anak mereka. Wowww…

Ya, menjadi ibu bukanlah sesuatu yang mudah. Membesarkan anak mungkin mudah. Namun, mendidiknya agar menjadi anak yang baik tentu bukan hal yang enteng. Salah satu hal yang menjadi penguat saya adalah prinsip bahwa anak adalah aset. Bukan hanya aset dunia, tetapi yang lebih penting adalah aset akhirat. Merekalah amal kita yang tak akan habis sekalipun kita telah meninggal nanti.

Selain itu, ketika repot teramat sangat bersama anak-anak yang memang masih kecil, yang terbayang dalam benak saya adalah inilah kesempatan saya untuk bisa bebas memeluk dan mendekap mereka. Sepuluh atau lima belas tahun lagi mungkin saya tak lagi bebas mencium mereka sekehendak hati saya. Mungkin mereka tak lagi sedekat ini dengan saya. Karena, sekalipun mereka adalah anak-anak saya, tak dapatlah saya menguasai mereka. Mereka akan hidup dengan dunia barunya. Mulai ketika mereka sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya anak. Ini merupakan siklus umum yang tak dapat kita tolak kehadirannya, bahkan mungkin akan kita harapkan selalu datang pada saat yang tepat bagi anak-anak kita. Senyampang masih bisa berdekatan dengan mereka, saya akan berusaha memberikan waktu terbaik saya bagi mereka untuk menanamkan kasih sayang yang saya harapkan nanti akan tetap berkembang di dalam hati mereka.

Biarpun susah, tak layaklah saya mengeluh. Masih banyak ibu-ibu lain yang jauh labih repot dengan anak-anak yang tak sedikit. Dan dari yang banyak itu, tak sedikit pula yang bisa mengantarkan buah hati mereka ke gerbang kesuksesan. Selamat untuk para ibu yang telah berhasil mengarahkan anak-anak mereka mencapai pintu kesuksesan. Semoga kesuksesan yang dicapai adalah sukses dunia dan akhirat.

by Dian Khristiyanti “kompasiana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s